pariwisata kabupaten jember

Gelar Larung Sesaji Setelah Adanya Penampakan Buaya di Manyar, Hiu Tutul & Ular Python Muncul di Laut Gresik

  Dibaca : 550 kali
Gelar Larung Sesaji Setelah Adanya Penampakan Buaya di Manyar, Hiu Tutul & Ular Python Muncul di Laut Gresik
Warga sedang larung sesaji.
space ads post kiri

Gresik, Memo X – Warga nelayan Desa Manyar Kabupaten Gresik mengadakan ritual larung sesaji ke laut pesisir Gresik lantaran sering muncul penampakan buaya. Kembali warga pesisir Desa Lumpur Kecamatan Gresik dikagetkan dengan menculnya hiu paus tutul raksasa dan penemuan ular besar yang menyangkut salah satu jaring nelayan.

Ular tersebut tersangkut salah satu jaring milik nelayan yang bernama Yudi di perairan laut muara Rumo Kalisari, salah satu pembatas Kabupaten Gresik – Surabaya sekitar pukul 11.45 Wib.

Yudi, warga Desa Lumpur Gresik pemilik jaring yang menemukan ular besar itu mengatakan, tiba-tiba mengaku kaget ular jenis piton cukup besar itu menyangkut pada jaring miliknya.”Saat memasang jaring, tak berselang lama jaring saya menangkap seekor ular. Tak kira awalnya biawak, ternyata ular piton lalu bersama 3 teman saya bawa pulang,” ujar Yudi melalui temannya Kasripan kepada wartawan. Kamis (1/6).
Hewan jenis karnivora ini berukuran 4 meter dan berat diperkirakan lebih dari 20 kg. Dia menambahkan, sementara ular ini diperuntukkan sebagai tontonan warga sekitar.

“Belum tahu kedepan seperti apa, namun untuk sementara untuk hiburan rakyat, bagi masyarakat yang melihat dimohon dengan suka rela mengisi kotak sumbangan diperuntukkan buat pembanguna masjid,” terang Kasripan.

Sementara, menurut warga setempat mengaku merasa senang dengan adanya penangkapan ini. “Dari kecil belum pernah melihat ular segede ini secara langsung. Senang menjadi hiburan masyarakat teruma anak lecil,” ungkap Jalali, salah satu warga setempat.

Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Mbah Joyo Sugeng. Pihaknya mengatakan, seharusnya kejadihan itu untuk dijadikan kontrol menyelaraskan keseimbangan alam. “Seharusnya hal hal seperti kejadihan itu bukan hal yang aneh, sebab apa, itu sama juga seperti kita kita ini. Sama mahkluknya yang kuasa hanya bentuk rupa saja yang membedakan,” ujar Mbah Geng panggilan akrabnya.

Mbah Geng menambahkan, penyelarasan toleransi kehidupan alam itu sebetulnya tak jauh beda dengan kehidupan bermasyarakat antar manusia. Begitu juga sebaliknya ketika manusia bisa menyelaraskan kehidupan yang dialaminya selain itu kita berupaya harus saling menjaga menghormati sesama mahkluk Tuhan.
“Artinya tanpa saya berbicara panjang lebar terlepas disadari dan tidaknya kita ini sama sama ciptaan Tuhan, wong kampung saja ada sesepuhnya berarti ketika kita masuk atau mertamu wajib permisi, sama hal hal seperti itu juga punya alam lain dan menurut saya wajib menghormati karena sama sama ciptaanya. Itu kalau menurut saya terlepas percaya atau tidak itu urusan mereka,” pungkasnya. (sgg/zen)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional